Belajar Bahasa Ibrani di Jakarta

Belajar Bahasa Ibrani di Jakarta – Kursus bahasa Ibrani untuk masyarakat umum dimulai di Jakarta. Salah satu pendiri dan sekaligus pengajar bahasa Ibranim Sapri Sale mengakui bahwa bahasa Ibrani masih tabu guna masyarakat Indonesia.

Setengah jam sebelum latihan dimulai, Sapri Sale telah tiba di tempat kursus di kantor Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) di area Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Ia ialah pengajar sekaligus orang Indonesia kesatu yang membuka kursus bahasa Ibrani, tersingkap buat masyarakat umum.

Tentu saja Sapri, sarjana bahasa Arab alumni dari Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir, ini sadar betul dengan sensitifitas dari pekerjaan barunya itu. Maklum saja, untuk sebagian kalangan muslim di Indonesia, seluruh hal yang beraroma Yahudi dibenci dan dimusuhi. Ibrani adalahbahasa bangsa Yahudi.

Sambil mengisap rokoknya dalam-dalam, Sapri menjelaskan untuk VOA tentang alasannya membuka kursus bahasa Ibrani untuk orang Indonesia. Menurutnya meskipun mayoritas warga Indonesia meniai bahasa ibrani sebagai urusan yang tabu, namun bahasa ini sama pentingnya dengan bahasa-bahasa lain.

Meski sadar bakal risikonya, pria asal Sulawesi Selatan ini menegaskan dirinya tidak pernah fobia mendapat ancaman atau intimidasi. Yang perlu dilaksanakan untuk menghilangkan kesalahpahaman tersebut, lanjutnya melulu menjelaskan bahwa bahasa Ibrani dan negara Israel ialah dua urusan yang berbeda.

Berdasarkan keterangan dari Sapri, dirinya melatih sekaligus menyebarluaskan bahasa Ibrani guna mempelajari kebiasaan orang Israel, tak berbeda dengan mempelajari kebiasaan negara-negara Arab.

Sapri mempunyai dua mimpi soal bahasa Ibrani di Indonesia yang dinilainya sebagai suatu revolusi.

“Terutama revolusi untuk kaum Kristiani di Indonesia, bagaimana mereka bisa membaca buku suci mereka dalam bahasa aslinya. Selama ini haknya semua intelektual yang terdidik di perguruan-perguruan tinggi Kristen. Bagaimana bahasa (Ibrani) pun harus terbit dari ruang itu, sampai-sampai menjadi hak publik,” paparnya.

Mimpi dua-duanya tambah Sapri ialah menjadikan masyarakat Indonesia dapat berbahasa Ibrani sehingga dapat menggali informasi tentang Israel dengan menyimak langsung media dan buku-buku terbitan negara itu.

Sapri berterima kasih untuk ICRP sebab telah meluangkan tempat untuk dirinya guna membuka kursus bahasa Ibrani yang dibuka sejak 5 Maret lalu.

Sapri membuka dua ruang belajar dengan jumlah peserta tiap ruang belajar maksimal sepuluh orang. Biaya kursus tiap peserta sebesar Rp 600 ribu. Waktu kursus dua kali sepekan masing-masing Senin dan Rabu. Terdiri dari dua kelas: pukul 16.00-17.30 dan 19.00-20.30.

Sapri menargetkan dalam delapan kali pertemuan, peserta kursus sudah dapat membaca Ibrani.

Sore itu, harusnya terdapat lima peserta kursus Ibrani yang hadir, tetapi satu orang berhalangan. Proses belajar mengajar dilangsungkan serius namun santai. Meski demikian, semua peserta kursus hendak sekali menyimak keterangan Sapri yang melatih dengan gaya komunikatif.

Salah satu peserta ialah Ales Wowor, dosen jurusan ilmu komputer di suatu Universitas Kristen di Jawa Tengah. Dia datang terlambat sebab baru datang dari Salatiga dan berlalu kursus dia buru-buru memburu pesawat untuk kembali ke Salatiga.

Ales menyatakan tertarik belajar Ibrani karena hendak melanjutkan studi ke Israel.

“Saya penelitian di ilmu komputer dan kriptografi, bagaimana seni guna menyembunyikan pesan. Nah, bahasa Ibrani di antara bahasa yang punya kiat kriptografinya sangat klasik. Karena saya (mempelajari) kriptografi, jadi saya paling tertarik dengan bahasa Ibrani,” ujar Ales.

Ales optimistis dapat membaca Ibrani setelah menuntaskan kursus etape dasar dalam masa-masa deapan minggu.

Peserta kursus Ibrani lainnya, seorang seniman perempuan mohon ditulis namanya Opin, menyatakan dirinya paling tertarik mempelajari Ibrani sebab langka guna mendapat peluang buat mempelajari Ibrani. Dia yakin dapat membaca Ibrani sebab Sapri Sale ialah pengajar yang baik.

“Saya merasa Pak Sale tersebut sangat komunikatif dan sungguh-sungguh sabar. Saya punya peluang untuk bertanya juga. Jadi saya pikir tidak terdapat halangan dari pihak pengajar,” kata Opin.

Sapri Sale pun adalahpenulis kamus Ibrani-Indonesia kesatu. Kamusnya baru dikenalkan di Jakarta pada bulan lalu.

Simak : https://www.bahasainggris.co.id/

This article was written by sucx3