Mengenal Alternatif Belajar Anak Terbaru

Mengenal Alternatif Belajar Anak Terbaru

Smart Parents, berbicara mengenai pilihan pendidikan terbaik untuk anak, sesungguhnya tidak bakal pernah selesai. Selalu saja tersedia inovasi serta adopsi sistem terakhir sebagai bentuk perbaikan kurikulum pendidikan atau alternatif belajar. Termasuk yang baru-baru ini terasa dikenal di Indonesia, bernama pendidikan Waldorf yang diambil dari intisari pemikiran filsuf pendidikan asal Austria bernama, Rudolf Steiner. Kini, sekolah Waldorf terasa dipercaya jadi opsi pembelajaran baru bagi anak. Bagaimana pola pengajarannya di sekolah? Simak cerita lengkap hasil wawancara Ruangguru bersama keliru satu praktisi pendidikan berbasis Waldorf, Dr. Naomi Soetikno tersebut ini.

“Pendidikan sekolah yang baik, mestinya bukan hanya memprioritaskan aspek kognitif atau inteligensi semata, tapi terhitung perlu mengajarkan sikap, cara berinteraksi, serta mengelola emosi,” ujarnya kala memulai penjelasan mengenai pendidikan Waldorf. Menurut Dr. Naomi, sistem pendidikan yang telah tersedia sejak th. 1919 ini, bisa mengintegrasikan semua yang diperlukan di dalam tumbuh kembang anak. Contohnya, bersama melibatkan sistem karya seni imajinasi seperti berpuisi, bernyanyi, drama, bermusik, atau hal-hal yang mengenai bersama keindahan lain di sekitar anak. Maka, bersama begitu mereka sebagai manusia bakal lebih menjunjung hubungan bersama lingkungannya.

Peran seni yang cukup dominan di dalam pembelajaran Waldorf terhitung diinginkan bisa menolong meningkatkan rasa empati yang tinggi terhadap sesama. “Bisa jadi seorang anak pintar, tapi norma sosial justru ia langgar. Lewat seni, ia bisa jadi anak yang lebih santun di dalam bertutur kata dan mengerti bahwa manusia tidak bakal terlepas bersama sesamanya,” lanjut alumni pendidikan Strata-3 (S3) Fakultas Psikologi, Universitas Padjajaran ini.

Pendidikan Waldorf pun tidak pernah menargetkan semua anak miliki tolok ukur yang sama. Kecepatan belajar mereka, lagi terhadap kemampuan diri masing-masing. Oleh karena itu, tidak banyak buku pelajaran yang digunakan sekolah berbasis Waldorf. Justru, tiap tiap anak bisa jadi pembangkit kurikulum bagi dirinya sendiri. Hal inilah yang membawa dampak pembelajaran style ini nampak sulit diaplikasikan terhadap sekolah formal. Tidak tersedia kecepatan berpikir anak yang mesti diukur, amat bertolak belakang bersama standar pendidikan di sekolah nasional. “Pada intinya, sistem berpikir kreatif itulah yang dikejar melalui Waldorf. Seni sebagai instrumen yang menarik bagi anak-anak untuk dieksplorasi, jadi sarana belajar yang tepat. Mereka mampir ke sekolah rasanya pasti jadi senang,” lanjut Dr. Naomi.

Di sisi lain, tak hanya siswa yang terima manfaat dari perihal ini, para orang tua pun merasakan efek positifnya. Setidaknya, tiap tiap dua minggu sekali terkandung pertemuan wali murid yang berisikan kesibukan berbasis Waldorf, andaikata saja membawa dampak kerajinan tangan atau diskusi buku bersama. Orang tua yang menginginkan supaya anak bisa lebih dekat bersama seni dan lingkungannya, justru mesti mencontohkan terutama dahulu. Termasuk terhitung kurangi pemanfaatan telpon genggam, supaya bisa menekuni hubungan segera bersama sekitar.

Walau sistem pendidikan sekolah Waldorf amat jauh berbeda bersama sekolah formal terhadap biasanya, Dr. Naomi selamanya optimis semua siswa bakal bisa mengikuti paket ujian nasional sebagai syarat kelulusan dan kesetaraan ijazah. “Mereka ‘kan telah dilatih teknik berpikir kreatif sedari dini, itu sebagai modal awal. Jadi nantinya senang hadapi materi ujian apa saja, pasti bisa,” ucap tenaga pengajar Fakultas Psikologi, Universitas Tarumanegara ini.

Selain bisa menguasai pelajaran apapun, beliau terhitung mengharapkan tambah banyak lagi orang tua di Indonesia yang mengerti lebih di dalam mengenai sekolah ini. Pasalnya, kala ini baru terkandung beberapa lokasi yang miliki sekolah Waldorf, yakni Jakarta, Bandung dan Bali. Itu pun tetap di step Taman Kanak-Kanak (TK). Ke depannya, Dr. Naomi dan para penggerak Waldorf tetap miliki tantangan besar untuk melegalisasi yayasan dan terhitung membangun Sekolah Dasar (SD).

Selengkapnya : https://www.biologi.co.id/

This article was written by sucx3