Srtuktur Berdasarkan Kebutukan Siswa

Srtuktur Berdasarkan Kebutukan Siswa

Srtuktur berdasarkan kebutukan siswa
Srtuktur berdasarkan kebutukan siswa

Dalam bidang studi sejarah terdapat banyak materi

atau bahan ajar yang membahas tentag sejarah. Misalkan saja untuk membahas tentang kolonialisme. Indonesia dijajah selama lebih dari 3,5 abad. Maka tidak mungkin untuk menyampaikan seluruh peristiwa yang terjadi selama 3,5 abad tersebut dalam pertemuan yang singkat pada pelajaran sejarah. Sekalipun menyesuaikan SKKD, tuntutan yang dibebankan kepada siswa terlalu banyak sedangkan waktu yang diberikan sangat dirasa tidak cukup. Agar dalam penyampaian bahan ajar oleh guru dapat berjalan baik maka struktur bahan ajar tersebut harus disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Yang terutama yaitu poin-poin pokok dalam SKKD dapat tercapai dengan waktu dan bahan ajar yang ada.

 

Meningkatkan daya hafal, daya aplikasi, dan daya menemukan (analisa)

Daya hafal terbagi dalam 2 jenis, yaitu menghafal verbal (remember verbatim) dan menghafal parafrase (remember paraphrase). Menghafal verbal adalah menghafal persis seperti apa adanya. Terdapat materi pembelajaran yang memang harus dihafal persis seperti apa adanya, misalnya nama orang, nama tempat, nama zat, lambang, peristiwa sejarah, nama-nama bagian atau komponen suatu benda, dsb. Sebaliknya ada juga materi pembelajaran yang tidak harus dihafal persis seperti apa adanya tetapi dapat diungkapkan dengan bahasa atau kalimat sendiri (hafal parafrase). Yang penting siswa paham atau mengerti, misalnya paham inti isi Pembukaan UUD 1945.

Daya aplikasi Materi pembelajaran setelah dihafal

Atau dipahami kemudian digunakan atau diaplikasikan. Jadi dalam proses pembelajaran siswa perlu memiliki kemampuan untuk menggunakan, menerapkan atau mengaplikasikan materi yang telah dipelajari. Penggunaan fakta atau data adalah untuk dijadikan bukti dalam rangka pengambilan keputusan. Penggunaan materi konsep adalah untuk menyusun tindakan-tindakan apa yang akan dilakukan di masa depan. Selain itu, penguasaan atas suatu konsep digunakan untuk menggeneralisasi dan membedakan. Penerapan atau penggunaan prinsip adalah untuk memecahkan masalah pada kasus-kasus lain. Penggunaan materi prosedur adalah untuk dikerjakan atau dipraktekkan. Penggunaan materi sikap adalah berperilaku sesuai nilai atau sikap yang telah dipelajari. Dalam pembelajaran sejarah istilah yang beredar dalam lingkungan sejarah yaitu belajar dari sejarah. Sesuatu yang sudah terjadi di masa lalu dijadikan pelajaran agar masa depan lebih baik.

Yang dimaksudkan penemuan (finding) di sini adalah

Menemukan cara memecahkan masalah-masalah baru dengan menggunakan fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang telah dipelajari. Menemukan merupakan hasil tingkat belajar tingkat tinggi. Gagne (1987) menyebutnya sebagai penerapan strategi kognitif. Misalnya, setelah mempelajari tentang perang kemerdekan siswa dapat menarik kesimpulan kecil bahwa kemerdekaan indonesia direbut oleh masyarakat indonesia dari seluruh elemen.

 

Baik itu agama, suku, maupun ras di indonesia

sehingga siswa mengetahui bahwa mereka harus menjunjung persatuan dan kesatuan. Bukanya setelah mempelajari tentang perang kemerdekaan mereka justru semakin semangat untuk melakukan aksi tawuran dengan sekolah lain. Itu adalah aspek yang harus diperbaiki seorang guru dalam mendidik siswanya agar yang tercapai hasil sesuai dengan SKKD dan bukan hal yang lainya.

Namun di luar semua kriteria yang disebutkan di atas

Guru sejarah selalu dapat melakukan improfisasi dalam memberikan materi kepada siswa. Terkadang dalam satu sekolah saja terdapat dua guru sejarah yang cara mereka memberikan materi dengan etode dan media yang mereka gunakan berbeda, selama dapat mencapai SKKD maka itu akan lebih baik karena terdapat berbagai meode, media, dan sumber untuk membuat bahan ajar yang baik.

Sumber : https://dosen.co.id/

This article was written by sucx3