Cerdas Emosi; Diary Anak Pengubah Orangtua

Cerdas Emosi; Diary Anak Pengubah Orangtua

Inilah pengalaman nyataku.

Gadis itu tetap kelas 5. Dia tidak segan-segan bergabung bersama dengan siapapun yang tengah asyik bermain. Langkahnya begitu enteng untuk berteman. Kata-katanya terhitung sebabkan temannya mulai nyaman. Bahkan, selagi sendiri, tangannya kerap ditarik-tarik utk bermain baersama.

Bagiku, dia adalah khusus unik. Tubuhnya terlampau enteng dalam dua sisi. Geraknya untuk bermain dan bergembira terlampau lincah, tetapi kerap terhitung saya melihat cara cepatnya untuk menyendiri. Mungkin, bagi teman-temannya dia tengah belajar. Kalau saya yang melihat matanya, dia berada terlampau jauh di kedalaman hatinya.

Bola mata itu mengarah terhadap buku yang terbuka, tetapi pikiran dan hatinya melayang jauh entah kemana. Itu nampak dikala bola mata tak bergerak terhadap satu titik hingga hitungan menit.

Membangun emosi bersama dengan anak didik tetap jadi prioritasku. Sampai selagi ini saya berkeyakinan bahwa anak dapat studi lebih masksimal bersama dengan guru yang mereka mulai nyaman berada di dekatnya atau paling tidak terhadap yang mereka percayai. Itulah yang membuatku menerapkan trick ini.

“Anak-anak, ayah meminta hari Rabu kalian membawa satu buku tulis kosong”.

Rasa penasaran anak cuma saya jawab bersama dengan senyuman dan jawaban-jawaban ringan. Aku yakinkan mereka bahwa buku itu dapat jadi buku yang terlampau penting.

Hari Rabu.

“Anak-anak. Bapak meminta kalian untuk duduk tenang. Ingatlah momen yang paling membahagiakan dalam satu hari ini, satu minggu ini, atau satu bulan ini. Kapan saja. Ingatlah terhitung perihal yang paling menyedihkan yang anda alami. Apapun yang kalian ingat, silakan kalian tulis di buku kosong kalian. Buku yang cuma kalian sendiri dan Allah yang tahu. Itulah buku catatan rahasia kalian.”

Aku meyakinkan ulang bahwa, “kalian cuma harus mengawali bersama dengan tanggal, sesudah itu menuliskan sesuatu yang sebabkan kalian bahagia, dilanjutkan bersama dengan sesuatu yang sebabkan kalian sedih, dan ditutup bersama dengan keinginan kalian yang belum terpenuhi”.

Ya, itulah latihan anak-anak dalam mengenali emosi dan perasaannya. Mereka berlatih bersama dengan cara menulis buku catatan harian. Awalnya, seminggu dua kali dan saya membolehkannya terkecuali ada yang mendambakan mengisinya tiap tiap hari.

Setiap anak terkecuali mendapatkan perlindungan atas apa yang dia rasakan, maka dia dapat mengakses diri seluas-luasnya. Buku catatan harian adalah area curhat tanpa ada yang menghakimi, tanpa ada tekanan, tidak ada penilaian, dan bebas.

Suatu ketika, sebagian orang kerap lupa membawa buku catatan harian yang harus diisi dua kali dalam seminggu. Aku pun sediakan satu loker berkunci untuk menyimpan buku itu di sekolah. Dan anak-anak yakin untuk menyimpannya di sekolah.

Dua bulan menjelang akhir th. pembelajaran, saya menyisihkan selagi untuk membaca buku catatan harian anak-anak. Kejutan berulang-kali yang saya dapat. Tentang ekspresi diri, rasa suka, ungkapan emosi, dan harapan tiap tiap anak yang berbeda-beda.

Sampailah saya terhadap anak yang tetap menulis tentang orangtuanya. Dia merasakan kepedihan selagi melihat orangtuanya berkompetisi mulut nyaris tiap tiap hari, saling menghina, dan saling caci. Dia menuliskan alasannya kenapa kerap terlambat datang ke sekolah. Lagi-lagi, konflik orangtua penyebabnya. Bahkan, dia menulis bahwa ibu beserta dirinya pernah diturunkan paksa dari mobil di tepi jalan akibat perang mulut.

Dia pun tak pernah lupa menutup catatan bersama dengan harapan kepada ke dua orangtuanya.

Aku menimbang satu kali, puluhan kali, dan bahkan ratusan kali untuk mengambil alih ketetapan supaya tidak benar satu orangtuanya membaca. Aku hitung segala macam risiko, mengukur akibat dan manfaat, hingga mematangkan cara dalam menyampaikan ke orangtuanya.

Saat jatah rapor, saya pun menyerahkan foto copyan buku catatan harian anaknya. Dengan mengukur cara yang masak dan tanpa menyinggung, maka sampailah buku itu di tangan orangtuanya.

Begitu th. pelajaran baru di awali dan anak selanjutnya berada di kelas berikutnya, saya secara diam-diam mengamatinya selagi datang ke sekolah. Kini, dia tersenyum memasuki gerbang sekolah dikarenakan diantar oleh ke dua orangtuanya yang sudah saling senyum dan berpandangan bahagia.

Aku berpaling dan menjauh. Hanya mendambakan menenangkan diri. Ya, setidaknya mendambakan merayakan kebahagiaan sendiri sambil menyusun kekuatan menghindar bulatan bening di mataku yang hendak jatuh.

Target pertamaku bersama dengan program buku catatan harian adalah supaya anak-anak mampu mengenali emosi dan perasaannya, sesudah itu mampu mengungkapkannya sebelum saat dia sikapi. Itulah obyek awalnya, yaitu pengelolaan dan pengendalian emosi.

Apa yang kita dapat, mampu jadi lebih atau kurang.

Terimakasih.

Sumber : https://www.ruangguru.co.id/download-contoh-surat-penawaran-harga-yang-benar/

 

This article was written by sucx3