“Peran Ayah Menjadikanku Guru Yang Lebih Baik” Juga “Peran Guru Menjadikanku Ayah Yang Lebih Baik”

“Peran Ayah Menjadikanku Guru Yang Lebih Baik” Juga “Peran Guru Menjadikanku Ayah Yang Lebih Baik”

Ketika ada yang mengatakan bahwa kelahiran bayi bakal mengubah segalanya, maka yang bisa memercayainya dengan baik adalah orangtua yang melahirkan dan terlibat langsung membesarkannya. Dan betul, aku merasakan perubahan itu.

Dari peran ayah, aku menjadi guru yang lebih sayang dan peduli.

Terhadap bayiku, aku mencurahkan saat untuk menyayanginya. Aku mengidamkan melindunginya dan membuatnya senyaman mungkin.

Ketika di kelas, aku menyaksikan murid tidak lagi semata-mata seorang murid. Aku termasuk menyaksikan seorang anak yang butuh rasa nyaman, perlindungan, dan kasih sayang. Aku termasuk melihatnya sebagai anakku sendiri yang masuk ke dalam kelas. Setiap anak, meski udah agak besar, tetaplah seorang anak yang butuh bimbingan dan kasih sayang. Jika ada yang mengajakku berkata atau curhat, aku menjadi lebih peduli. Aku membayangkan betapa senangnya anakku disaat kami dengarkan ceritanya.

Dari peran Ayah, pandanganku pada orangtua murid termasuk berubah.

Orangtua miliki harapan besar terahadap sekolah tempat anaknya belajar. Jika aku mengidamkan memberikan pertumbuhan anaknya di sekolah, terlebih tentang sikap, maka aku tidak boleh mulai paling paham segalanya. Aku mengidamkan berdiskusi dan mengajak orangtua murid sebagai partner dalam tim. Ya, tim yang kompak dalam edukatif anak. Bukan partner tim yang saling menjatuhkan.

Jika ada laporan dari guru tentang sikap anakku di sekolah, maka aku termasuk tidak boleh mulai paling paham segalanya. Sikap anak di tempat tinggal bisa amat berbeda dengan di sekolah. Bisa jadi, anak yang kami anggap baik di tempat tinggal dikarenakan was-was pada orangtuanya beralih drastis disaat di sekolah. Bisa jadi, anak yang kami puji cerdas saat di rumah, menjadi biasa saja dikarenakan banyak temannya yang lebih cepat.

Orangtua dan sekolah harus saling komunikasi dan kerja sama. Ini tidak mudah, terlebih bagi orangtua di sekolah-sekolah yang berbayar “mahal”. Mereka lebih ringan terpengaruh untuk protes dan menggugat gurunya ketimbang mengajaknya bekerjasama. Padahal, keuntungan bagi anak bakal jauh lebih banyak yang didapat jikalau kami bekerjasama dengan guru.

Orangtua lebih paham anaknya disaat di rumah. Gurulah yang lebih paham tentang anaknya disaat di sekolah. Jalan terbaiknya adalah kolaborasi dan saling komunikasi. Guru tidak sempurna, tetapi senantiasa mengidamkan yang terbaik untuk anak-anak didiknya.

Sungguh, aku pernah mulai tidak suka disaat anakku sendiri dihakimi dengan sikap spesifik tanpa konfirmasi. Tapi sebagai orangtua yang termasuk seorang guru, aku harus senantiasa proporsional. Latar belakang keluarga, budaya, dan kebiasaan di keluarga bakal membentuk lebih dari satu besar sikap anak. Maka, catatan pertumbuhan anak di sekolah harus ditambah dengan situasi di rumah.

Dari peran ayah, aku termasuk menjadi lebih happy dan pemaaf.

Karena sayang, kami sering memaafkan anak disaat tidak benar di rumah. Aku memberi tambahan pujian yang tidak berlebihan.

Di kelas, benturan beraneka pembawaan anak sering terjadi. Ada anak pemurung, pemarah, pendiam, suka bicara, dan lain-lain. Ada anak yang ringan “baper” disaat temannya berkata sesuatu yang sebenarnya tidak punya niat menyakiti siapapun. Ada termasuk anak yang biasa saja disaat diejek oleh teman-temannya. Aku lebih ringan memaafkan kekeliruan anak dalam proses belajar. Bukan menghakimi.

Aku lebih sering menyaksikan kelucuan anak dalam belajar bersikap. Sebagai guru, aku tidak lagi ringan terpengaruh untuk menghukum anak. Kesalahan, tidak tepat sasaran, tidak benar paham, dan kegagalan adalah anggota dari cara mereka belajar. Yang harus aku sampaikan kepada anak-anak adalah bahwa seluruh proses itu tidak boleh membuatnya putus asa dan menyerah.

Setiap murid serupa dengan tiap-tiap anak. Mereka butuh kesempatan untuk berupaya lagi disaat melakukan kekeliruan atau kegagalan.

Dari peran guru, aku menjadi bapak yang lebih adil.

Di kelas, aku hadapi puluhan murid dengan pembawaan dan emosi yang beragam. Aku harus adil pada semuanya. Tidak boleh, kebencian atau kasih sayangku membuatku berlaku tidak adil dan tidak mendidik. Semua anak, termasuk anak kita, butuh bimbingan, perlindungan, dan kasih sayang orang dewasa di dekatnya.

Terhadap tugas, misalnya, aku termasuk bakal mengukur kemampuan saat anak di rumah. Ada anak yang tiap-tiap hari bekerja menolong orangtuanya. Ada anak yang tidak ditemani orangtuanya disaat pulang sekolah. Ada termasuk anak yang sepenuhnya didampingi oleh orangtuanya.

Di rumah, aku menyaksikan dan memperlakukan anak cocok pembawaan dan usianya. Respon pada kakak dan adik di tempat tinggal termasuk aku bedakan. Tugas dan tanggung jawab termasuk aku sesuaikan. Penanaman disiplin termasuk aku memberikan dengan penekanan yang tidak sama.

Terhadap waktu, aku termasuk harus adil pada untuk diriku dan anakku. Waktuku senantiasa ada untuk mendampingi anak saat bermain dan belajar. Selelah apa-pun dan seemosi apa-pun aku saat pulang kerja, aku senantiasa harus menyayangi dan memberi tambahan kecupan. Hadiah terbesar justru bakal aku dapatkan selama hayat dari anak-anakku yang sholih.

Dari peran ayah, aku menjadi guru yang lebih fokus pada pendidikan karakter.

Ketika miliki bayi yang tumbuh besar, aku suka disaat kemampuan kognitifnya berkembang. Kebanggaanku tambah besar disaat menyaksikan anakku bisa bersikap yang baik pada dirinya dan orang lain. Sejak itu, perhatian pada pertumbuhan pembawaan anak didik menjadi lebih besar ketimbang mengajar untuk nilai tes saja.

Lahirnya anakku yang kedua, mempunyai perubahan lebih banyak lagi. Anak yang dilahirkan dari rahim yang sama, tempat tinggal yang sama, orangtua yang sama, dan cara yang nyaris serupa bisa melahirkan anak dengan pembawaan yang amat berbeda pada kakak dan adiknya. Sebagai ayah, aku harus bisa mendapatkan keunikan masing-masing.

Kini, aku tidak pernah lagi menyaksikan seluruh muridku sama. Aku menjadi lebih sabar untuk mendapatkan berlebihan tiap-tiap anak. Aku mendekati tiap-tiap muridku dengan cara yang berbeda-beda. Guru dan Orangtua bisa mengakses bakat terpendam anak.

Peran bapak menguatkanku untuk menjadi guru yang lebih baik. Tugas orangtua dan guru Saling melengkapi dan menguatkan. Aku termasuk miliki kepercayaan bahwa tugas membesarkan anak dan mendidiknya adalah bukan sepenuhnya tugas guru dan sekolah. Karakter baik yang diitanamkan di tempat tinggal harus berlanjut dan dijaga selama di sekolah. Karakter baik yang dilatihkan oleh guru di sekolah harus mendapat penguatan yang berulang di rumah. Keduanya harus saling menguatkan.

Ketika orangtua udah bisa menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak, maka sekolah termasuk harus bisa menciptakan situasi yang serupa atau lebih-lebih lebih baik. Ketika anak tumbuh di tempat tinggal dengan situasi yang homogen, maka guru di sekolah harus memperkuat privat anak untuk hadapi situasi yang heterogen di sekolahnya. Kondisi ini harus disadari oleh pihak guru dan orangtua. Jika tidak, maka bakal ada saja moment saling menyalahkan.

Sekali lagi, kerja serupa dan komunikasi pada sekolah dan tempat tinggal menjadi kunci utama dalam pendidikan anak di samping penciptaan lingkungan yang baik.

#sahabatkeluarga

Sumber : https://www.lele.co.id/panduan-lengkap-7-cara-menanam-hidroponik-sederhana-di-pekarangan/

This article was written by sucx3