Belajar dari Peristiwa Guru Budi

Belajar dari Peristiwa Guru Budi

Belajar dari Peristiwa Guru Budi
Belajar dari Peristiwa Guru Budi

Meninggalnya Ahmad Budi Cahyanto (27 tahun) pada Kamis (1/2/18) lalu menjadi pukulan telak dunia pendidikan. Budi merupakan pengajar seni di SMAN 1 Torjun Sampang, Jawa Timur. Ia dikabarkan meninggal setelah dirujuk ke RSUD Soetomo tak berselang lama pasca penganiayaan yang dilakukan anak didiknya, MH.

Peristiwa ini menjadi pembelajaran bagi kita semua bahwa tak sepenuhnya di sekolah berisi orang-orang terdidik. Peristiwa penganiayaan ini menjadi preseden buruk bahwa masih banyak kasus-kasus amoral disertai kekerasan di lingkungan sekolah. Perilaku amoral tak hanya dilakukan MH yang tega menganiaya sang guru hingga meninggal, tetapi tidak sedikit pula kasus yang melibatkan guru sebagai pelaku utama. Misalnya, salah satu guru di SMPN Pasar Rebo Jakarta mencabuli anak didiknya hingga mencapai 16 orang (detikcom, 24/1/18).

Dua kejadian memilukan ini tentu menjadi semacam mata rantai dari peristiwa buruk di lingkungan sekolah. Adakah yang salah dengan sekolah? Akankah peristiwa tersebut menjadi trauma para orangtua untuk menyekolahkan anaknya, dan akhirnya lebih memilih home schooling? Selanjutnya, sistem pengajaran di sekolah-sekolah dapatkah menjadi asal muasal masalah?

Pertanyaan-pertanyaan demikian barangkali tidak hanya di benak saya

, pun juga di benak pembaca. Tapi, benarkah kita hanya berpangku tangan dan menyalahkannya pada keadaan? Tentu tidak.

Kembali ke Lokalitas

Hakikat pendidikan menurut Freire (1921-1997) membebaskan dan memanusiakan. Membebaskan anak didik bermakna memberikan kebebasan anak didik untuk mengembangkan segala potensi kreatifnya. Sedangkan memanusiakan ialah terciptanya anak didik sebagai manusia yang berbudi pekerti.

Nah, tujuan ideal ini tentu tidak asing bagi kita semua utamanya yang bergelut di dunia pendidikan. Dan, sistem pendidikan kita yang diterapkan di sekolah-sekolah juga tak lepas dari semangat ini. Namun, praktiknya hingga kini masih kita temukan kasus kekerasan, asosial, amoral, dan kasus tidak bertanggung jawab lainnya di sekolah. Lantas bagaimana kita menangkalnya?

Di dalam tradisi ketimuran ada tatakrama, sopan santun, saling menghormati dan menghargai, dan budi pekerti luhur lainnya. Budaya semacam ini kita dapat rasakan semakin menipis di lingkungan kita, apalagi di sekolah-sekolah. Tak ayal kegiatan belajar mengajar berujung belajar menghajar. Di tengah-tengah arus modernisasi yang tak dapat dibendung menjadi tugas seluruh elemen, baik pemerintah, tenaga pendidik, dan masyarakat untuk mengembalikan proses pembelajaran pada hakikatnya; menguatkan moralitas dan mental anak didik.

Kita tidak serta merta menyalahkan anak didik jika berperilaku menyimpang

, pun juga tak dapat mengkambinghitamkan guru jika hanya salah seorang oknum berperilaku cabul. Ini semua akibat proses dari realitas masyarakat kita yang sudah menjauh dari budaya ketimuran.

Di dunia pendidikan kita mengenal banyak metode pembelajaran. Pemerintah pun secara masif membuat metode belajar dan mengajar efektif dari tingkatan paling bawah hingga perguruan tinggi. Namun, bagaimana proses belajar mengajar tersebut dikatakan berhasil jika anak didik yang dihasilkan melenceng dari pembentukan moralitas pembelajar? Hal ini tentu tidak hanya menjadi tugas seorang pendidik di sekolah, tapi juga lingkungan khususnya keluarga.

Dua peristiwa di atas menunjukkan kegagalan proses pembelajaran kita.

Walaupun dua kejadian tersebut kasuistik, tapi apakah kita hanya tinggal diam tak bergerak? Bagaimana anak-anak kita di masa mendatang jika proses belajar hanya mengacu pada penguatan akademik dan abai pada penguatan mental anak didik? Untuk itu saya mengajak segenap elemen masyarakat untuk mendidik anak-anak kita berbasis pendidikan lokalitas dan pendidikan agama.

Melalui dua basis ini insya Allah proses pembelajaran dan pendidikan kita di masa mendatang semakin cemerlang. Tentunya juga memanusiakan. Guru seyogianya memberikan contoh berperilaku baik. Begitu pula sebaliknya anak didik mencoba menghargai guru sebagai resi kebaikan. Tak lupa keluarga dapat mengarahkan anak-anaknya dengan perilaku baik pula, atau yang dikenal di lingkungan umat Islam uswatun hasanah (suri tauladan yang baik).

 

Sumber :

https://cs.byu.edu/job-posting/school-fundraisers-tips-raising-funds-your-school

This article was written by sucx3