Etika Kebahagiaan Epikuros

Etika Kebahagiaan Epikuros

Etika Kebahagiaan Epikuros
Etika Kebahagiaan Epikuros

 

The Four Part Cure

(Philodemus, Herculaneum Papyrus 1005, 4.9-14)

Don’t fear god, don’t worry about death,

What is good is easy to get, and what is terrible is easy to endure.

Pemikiran epistemologi dan metafisika seperti

terangkum di atas mendasari ajaran etika Epikuros mengenai kenikmatan. Jelas bagi Epikuros, sensasi merupakan kriteria kebenaran dan bagaimana rasa nikmat atau sakit memandu manusia untuk memutuskan apa yang baik bagi hidupnya. Akan tetapi kita harus berhati-hati untuk memahami nikmat seperti apa yang dimaksud oleh Epikuros dan tidak begitu saja menyamakan etika Epikuros dengan hedonisme kasar yang sekedar mengejar kenikmatan jasmani.

 

Kenikmatan sebagai Absennya Rasa Sakit dan Penderitaan (Apathia)

Epikuros membedakan 2 jenis kenikmatan yaitu kinetic pleasure (kenikmatan bergerak) dan katastematic pleasure (kenikmatan pada kondisi yang statis, harmonis dan penuh). Kenikmatan kinetik merupakan kenikmatan yang diperoleh sensasi inderawi saat seseorang menjalankan aktifitas yang menyenangkan (misalnya, saat menyantap makanan). Sedangkan kenikmatan katastematik justru datang saat rasa sakit dan penderitaan hilang (misalnya, saat lapar dan dahaga hilang). Jika dihubungkan dengan pemikiran atomisnya, pada kenikmatan katastematik, atom-atom dalam tubuh manusia bergerak secara harmonis dan stabil.

Epikuros lalu kembali pada pengamatannya terhadap bayi

yang dikatakannya masih murni dan belum dihinggapi berbagai macam hasrat. Bayi yang lapar mencari kenikmatan katastematik yaitu rasa nikmat saat perut tidak lagi merasa lapar. Dari pengamatan ini lalu disimpulkan bahwa saat tubuh terbebas dari sakit dan penderitaan, manusia mengalami kenikmatan yang membahagiakan. Dengan kata lain, kebahagiaan manusia datang dari kenikmatan katastematik yang berarti absennya rasa sakit dan penderitaan. Kenikmatan katastematik adalah esensial bagi kebahagiaan manusia. Sedangkan kenikmatan kinetik hanyalah variasi dari kenikmatan, ia tidak menghilangkan rasa sakit, sebaliknya kedatangannya seringkali disertai oleh sakit dan penderitaan.[7]

Kenikmatan dengan Kebijaksanaan (Phronesis)

Epikuros menyadari bahwa kenikmatan berkaitan erat dengan terpenuhinya hasrat. Oleh karena itu ia membedakan 3 macam hasrat: hasrat alami dan perlu (seperti makanan), hasrat alami tapi tidak perlu (seperti makanan mewah dan seks) dan hasrat yang sia-sia (seperti kekayaan dan kekuasaan).[8] Epikuros mengingatkan bahwa hasrat alami dan perlu akan mendatangkan kenikmatan katastematik sedangkan kedua hasrat yang lain hanya menghasilkan kenimatan kinetik. Jika kenikmatan datang karena terpenuhinya hasrat, maka ada 2 strategi untuk mencapainya: pertama, memenuhi segala hasrat yang muncul, dan kedua, memenuhi hasrat yang mudah dicapai. Epikuros menganjurkan jalan kedua, karena secara realistis tidak mungkin manusia dapat memenuhi semua. Sebaliknya, hasrat yang tidak terpenuhi justru mendatangkan sakit dan penderitaan (apathia).

Epikuros juga membedakan dua jenis penderitaan yaitu penderitaan fisik dan penderitaan mental. Penderitaan fisik berkaitan dengan apa yang dirasakan saat ini, sedangkan penderitaan mental berkaitan dengan memori masa lalu dan ketakutan akan masa depan (yang sebenarnya tidak pasti).[9] Karena cakupannya lebih panjang, penderitaan mental bisa memperburuk penderitaan fisik. Selanjutnya Epikuros menyimpulkan bahwa penderitaan mental dapat menghalangi tercapainya kebahagiaan, dan bahwa penghalang kebahagiaan terbesar adalah ketakutan akan masa depan (terutama kematian dan hidup setelah kematian) serta ketakutan akan dewa-dewa (yang akan menghukum manusia jika tidak hidup sesuai dengan harapan dewa-dewa).

Bahwa atom-atom dapat mengalami gerakan random juga mendasari pemikiran Epikuros mengenai kebebasan kehendak. Seperti atom yang membebaskan diri dari gerakan alaminya, manusia juga bisa membebaskan diri dari ‘takdirnya’. Di sini Epikuros seolah-olah ingin membebaskan manusia dari rasa takut akan dewa-dewa dan kematian. Ia ingin mengajarkan manusia untuk mengatur hidup menurut kebijaksanaannya sendiri (phronesis).[10] Manusia harus melihat jauh ke depan dan memiliki penguasaan diri dalam mengolah hasratnya. Tidak semua kenikmatan perlu diraih dan tidak semua penderitaan perlu ditolak. Penderitaan adalah baik dan bisa dijalani jika pada akhirnya ia memberikan kenikmatan yang besar. Sebaliknya kenikmatan bisa buruk dan mesti ditolak jika dibaliknya ada penderitaan yang lebih besar.

Sumber : http://devitameliani.blog.unesa.ac.id/makna-proklamasi-bagi-indonesia

This article was written by sucx3