Katarabumi: Kolano Jailolo Terbesar

Katarabumi: Kolano Jailolo Terbesar

Katarabumi: Kolano Jailolo Terbesar
Tahun 1529 bangsawan tinggi Katarabumi (Catabruno) diangkat sebagai Mangkubumi Jailolo. Pengangkatan itu membawa dampak Ternate jadi ada masalah di dalam laksanakan ambisi politiknya. Hal itu dikarenakan Katarabumi mendapat perlindungan dari kerajaan Tidore, supaya seluruh serbuan Ternate yang di bantu Portugis mampu di tangkis.

Di tahun 1533 Sultan Yusuf meninggal dan digantikan puteranya yang bernama Firuz Alauddin yang memang tetap dibawah umur untuk menjadi seorang penguasa Jailolo. Karena usianya yang tetap muda dan kerap sakit-sakitan, Katarabumi ditunjuk sebagai Mangkubumi untuk menjalankan roda pemerintahan kesultanan Jailolo.

Di samping itu, Gubernur Portugis Tristao de Ataide membawa dampak tuduhan orang-orang Spanyol yang tersedia di Jailolo udah menambahkan perlindungan kepada 4 sampai 5 negeri yang dahulunya dulu berada di bawah kekuasaan Portugis. Dengan alasan itulah, Ataide mengerahkan tentaranya menyerang, dan sehabis pengepungan yang terjadi beberapa waktu, serta menyuruh supaya Jailolo segera menyerah.

Firuz Alauddin yang tetap dibawah umur kemudian dibawa Benteng Gamlamo di Ternate untuk berobat. Evakuasi yang dijalankan itu nampaknya merupakan konspirasi antara Ataide bersama Katarabumi, yang saat itu menjabat sebagaai Mangkubumi Kesultanan Jailolo.
Persengkongkolan berikut baru terungkap sehabis bermacam hadiah dari Ataide kepada Katarabumi diketahui umum, berupa hadiah yang berlebihan, termasuk payung, emas dan busana di dalam jumlah besar.

Tahun 1534 Katarabumi berhasil mengambil-alih kesultanan Jaikolo dan kemudian memproklamasikan diri sebagai Kolano, sehabis putera mahkota yang berobat di tempat tinggal sakit Portugis di Ternate meninggal bersama diracuni orang-orang suruhan Katarabumi.

Dalam proklamasinya Katarabumi menyatakan bahwa ia bakal memerintah Jailolo atas nama Raja Portugal, “Raja pertama bakal menambahkan kevazalannya bersama wibawa Kerajaan”. Selama berkuasa ia berhasil melepaskan seluruh wilayah Kesultanan Jailolo yang diduduki Kesultanan Ternate.

Namun kesuksesan di dalam mengusir kekuasaan Ternate dari wilayah Kesultanan Jailolo dan penyerbuan-penyerbuan yang dijalankan ke Kerajaan Moro udah membawa dampak kecurigaan orang-orang Portugis dan tidak menyangka bahwa Katarabumi mampu tampil sebagai kebolehan baru yang tangguh dan disegani di seluruh kawasan Maluku.

Dari seluruh pengakuan Katarabumi yang pro-Portugis ternyata cuma kamuflase untuk menutupi serbuan-serbuannya dan politik anti Kristen serta anti Portugis yang dijalankan di Kerajaan Moro.

Kesuksesan Katarabumi termasuk udah menyebabkan rasa kecemburuan Ternate. Dalam bermacam pengakuan yang diberikan beberapa saat sehabis penobatannya, Katarabumi tetap berujar bahwa raja-raja Maluku berkeinginan tetap bakal bersahabat bersama Portugis. Pernyataan itu terlalu membingungkan Gubernur Ataide, dikarenakan Katarabumi terus menyerang Misi Jesuit di Moro dan bersekutu bersama Deyolo, Sultan Ternate yang dilengserkan Portugis dari tahtanya dan sedang dicari-cari. Dengan Deyalo, Katarabumi membawa dampak persetujuan membantunya merebut tahta Kesultanan Ternate. Namun bersama imbalan , daerah Moro menjadi memiliki Jailolo.

Baca Juga :

This article was written by sucx3