Kenikmatan sebagai Jalan Menuju Ketentraman dan Ketenangan Jiwa

Kenikmatan sebagai Jalan Menuju Ketentraman

Kenikmatan sebagai Jalan Menuju Ketentraman
Kenikmatan sebagai Jalan Menuju Ketentraman

Dari penjelasan di atas terlihat bahwa etika Epikuros

bersifat privatistik karena sifatnya mencari kebahagiaan pribadi. Tidak mengherankan jika semboyan Epikuros adalah“hidup dalam kesembunyian”. Manusia dianjurkan hidup tenang dengan menikmati kenikmatan yang mudah diraih, serta menghindari sakit dan penderitaan. Bagi Epikuros, kenikmatan berada dalam ketentraman jiwa yang tenang, bebas dari perasaan cemas atau dikenal dengan istilah ataraxia.[11]

Dengan prinsip privatistik ini, Epikuros seolah-olah tidak melihat politik, keadilan dan kehidupan publik sebagai sesuatu yang bernilai. Keadilan bagi Epikuros hanyalah sarana bagi kenikmatan, yang diperlukan untuk sekedar mengatur ketentraman agar manusia tidak mengganggu ketenangan hidup manusia yang lain. Politik menjadi terlalu berisiko, karena kehidupan politik seringkali naik turun, mengancam ketentraman dan ketenangan hidup. Kehidupan publik, walapun menawarkan kenikmatan seperti kemasyuran dan kekayaan, seringkali penuh kecemasan dan bersifat kompetitif. Padahal kecemasan dan perilaku kompetitif tidak diperlukan dalam usaha pencapaian kenikmatan katastematik.[12]

Berkaitan dengan kehidupan sosial, satu hal yang menarik adalah Epikuros menekankan tingginya nilai persahabatan. Menurut Epikuros “Persahabatan bagaikan menari mengelilingi dunia, menggugah kita semua untuk merasakan kebahagiaan”.[13]Pemikiran persahabatan ini menimbulkan dua penafsiran. Di satu sisi, bisa ditafsirkan sebagai pemikiran egoistik karena sahabat dilihat sebagai alat untuk mencapai kenikmatan. Akan tetapi di sisi lain, bisa menunjukkan bagaimana etika Epikuros juga bersifat altruistik karena dalam persahabatan, kebahagiaan tidak hanya datang dalam tindakan menerima tapi juga dalam tindakan memberi.

Tanggapan

Perbandingan dengan Etika Yunani Lainnya

Seperti seluruh tradisi filsafat Yunani, etika Epikuros memiliki kesamaan dengan etika Aristoteles dan juga etika Stoa. Ketiganya bersifat teleologis dan memiliki titik tolak yang sama bahwa kebahagiaan merupakan nilai tertinggi yang menjadi tujuan hidup manusia. Perbedaan mendasar dari ketiganya adalah definisi tentang kebahagiaan itu sendiri. Aristoteles menyatakan kebahagiaan datang saat manusia berhasil mengembangkan dirinya. Stoa menyatakan kebahagiaan tercapai saat manusia menyatu dengan keselarasan alam semesta. Sedangkan Epikuros mengidentikkan kebahagiaan dengan kenikmatan.

 

Dibandingkan dengan etika Aristoteles

terlihat bahwa etika Epikuros menjadi lebih ‘sempit’, walaupun sama-sama dilakukan dengan phronesis. Bagi Aristoteles hidup etis terlaksana tidak hanya dalam pengembangan potensi individu tapi lebih luas lagi yaitu dalam tindakan yang merealisasikan hakikat dan potensi manusia sebagai makhluk sosial. Sebaliknya etika Epikuros menjadi terlihat egois karena hanya mempertimbangkan kenikmatan dan kenyamanan diri sendiri. Dengan prinsipnya menyepi dari kehidupan publik, etika Epikuros seolah-olah mengingkari hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Sehingga timbul pertanyaan apakah kebahagiaan yang dituju oleh etika Epikuros benar-benar membahagiakan?

 

Dibandingkan dengan etika kebahagiaan Stoa

etika Epikuros juga memiliki perbedaan pandangan mengenai takdir dan kebebasan. Jika Epikureanisme ingin mengajarkan manusia untuk melawan takdir dan menggunakan kebijaksanaannya sendiri, kaum Stoa justru memiliki pandangan determinisme tentang hukum alam universal yang mendasari gerak dalam alam semesta, segalanya termasuk manusia berada di bawah takdir. Sama dengan Epikurean, kaum Stoa juga mencita-citakan tercapainya ataraxia dan apathia seperti kaum Epikurean, akan tetapi pemaknaannya menjadi berbeda. Ataraxia dan apathia bukanlah ketentraman dan ketenangan jiwa individu melainkan sikap mental yang kuat, yang sudah bertekad untuk menyatu dengan alam dan tak bergeming jika digoyangkan oleh yang fana. Kehidupan sosial juga mendapatkan tempat dalam etika Stoa. Ataraxia dikatakan membebaskan manusia untuk bersikap positif dan bertanggungjawab terhadap masyarakat sekeliling.[14]

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ketiga etika Yunani di atas memiliki tujuan yang sama yaitu mengajarkan manusia paham hidup yang baik, bermutu dan bermakna. Akan tetapi sifat privatistik dari etika Epikuros menjadikan etika ini lebih sempit dan egois dibandingkan dengan kedua etika yang lain. Magnis-Suseno bahkan menyatakan, etika Epikuros mengandung cacat moral karena tidak dapat menampung sikap-sikap moral dasar seperti tanggung jawab, kewajiban, cinta kasih, perjuangan demi keadilan demi kebaikan sesama.[15] Walaupun etika Epikuros mengandung kebaikan dan kebijaksanaan, kebahagiaan privat yang ditawarkan seperti menyempitkan arti kebahagiaan yang sebenarnya.

Sumber : http://devitameliani.blog.unesa.ac.id/jam-tangan-pengukur-tensi

This article was written by sucx3