Perwujudan Pancasila Sebagi Ideologi Terbuka

Perwujudan Pancasila Sebagi Ideologi Terbuka

Pancasila Sebagi Ideologi Terbuka

Pancasila Sebagi Ideologi Terbuka

Pada konteks kehidupan bernegara, pancasila telah menjadi kesepakatan bersama sebagai penyangga konstitusionalisme. Adanya kesepakatan tersebut, membuktikan pancasila sebagai ideologi terbuka. Jika kita melihat sejarahnya, pengembangan pancasila sebagai ideologi terbuka sesungguhnya telah mulai dilaksanakan pada masa orde baru. Meskipun pada pelaksanaannya, pencasla lebih terlihat sebagai ideologi tertutup. Pancasila lebih menjadi alat hegemoni untuk mengekang kebebasan dan melegitimasi kekuasaan elit. Masa orde baru mengangap pancasila tidak hanya mencakup nilai-nilai dan nilai dasar saja, tetapi meliputi juga kebijakan praktis perasional yang tidak dapat dipertanyakan, harus diterima, serta dipatuhi oleh masyarakat.

Pelaksanaan sebenarnya dari pancasila sebagai ideologi terbuka harusnya membuka ruang untuk membentuk kesepakatan masyarakat tentang cara mencapai cita-cita dan nilai dasar. Kesepkatan tersebut menjadi penyangga konstitusionalisme, yaitu kesepkatan tentang Rule of law yaitu landasan untuk penyelenggaraan negara dan bentuk-bentuk institusi serta prosedur-prosedur ketatanegaraan.

Keharusan pancasila menjadi ideologi terbuka

Keharusan pancasila menjadi ideologi terbuka didoraong pula oleh perkembangan zaman. Sejarah mencatat kehancuran suatu ideologi yang tidak memiliki fleksibilitas dalam mennaggapi perkembangan zaman. Salah satu contoh yang dapat kita ambil adalah runtuhnya komunisme di Uni Soviet.

Berdasarkan uaraian diatas, keterbukaan ideologi pancasila mengandung nilai-nilai. Menurut Moerdiono ada 3 tataran nilai dalam ideologi pancasila. Tiga tataran nilai itu adalah sebagai berikut.

Nilai dasar, yaitu suatu nilai yang bersifat abstrak dan tetap, bersifat amat umum, tidak terikat oleh waktu dan tempat, dengan kandungan kebenaran yang bagaikan aksioma. Dari segi kandungan nilainya, maka nilai dasar berkenaan dengan eksistensi sesuatu yang mencakup cita-cita, tujuan, tatanan dasar dan ciri khasnya
Nilai instrumental, yaitu suatu nilai yang bersifat kontekstual. Nilai instrumental merupakan penjabaran dari nilai dasar, yang merupakan aturan arahan kinerja untuk kurun waktu dan kondisi tertentu. Nilai instrumental ini haruslah mengacu pada nilai dasar yang dijabarkannya.
Nilai praksis, yaitu nilai yang terkandung dalam kenyataan sehari-hari, berupa cara bagaimana rakyat melaksanakan nilai pancasila.

Sumber Buku dari Bambang Suteng, dkk, Pendidikan Kewarganegaraan untuk SMA kelas XII. Eralangga.

Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka

  • Ideologi tertutup dan terbuka

Terkait dengan soal penafsiran ideologi, penting dikethui adanya dua macam watak ideologi, yaitu ideologi tertutup dan terbuka.

Ideologi tertutup adalah ideologi yang bersifat mutlak. Ideologi macam ini memiliki ciri:

  1. Bukan merupakan cita-cita yang sudah hidup dalam masyarakat, melainkan cita-cita sebuah kelompok yang digunakan untuk megubah masyarakat;
  2. Apabila kelompok tersebut berhasil menguasai negara, ideologinya itu akan dipaksakan kepada masyakat;
  3. Bersifat totaliter, artinya mencakup mengurusi semua bidang kehidupan. Karena itu ideologi tertutup ini cenderung cepat-cepar berusaha mwnguasai bidnag informasi dan pendidikan;
  4. Pluralisme pandangan dan kebudayaan tindakan, hak asasi tidak dihormati;
  5. Menuntut masyarakat untuk meiliki kesetiaan totaliter dan kesediaan berkorban bagi ideologi tersebut;
  6. Isi ideologi tidak hanya cita-cita, tetapi tuntutan-tuntutan konkret dan operasional yang keras, mutlak, dan total.

Sedangkan ideologi terbuka adalah ideologi yang tidak dimutlakkaan. Ideologi ini memiliki ciri:

  • Merupakan kekayaan rohani, moral, dan budaya masyakat. Jadi buka keyakina ideologis sekelompok orang;
  • Tidak diciptakan oleh negara, tetapi ditemukan dalam masyarakat sendiri; ia adalah milik seluruh rakyat dan bisa ditemukan dalam kehidupanmereka;
  • Isinya tidak langsung operasional. Sehingga, setiap generasi baru dapat dan perlu menggali kembali falsafah tersebut dan mencari implikasinya dalam situasi kekinian mereka.
  • Tidak pernah memperkosa kebebasan dan tanggung jawab masyarakat, melainkan menginspirasi masyarakat unuk berusaha hidup bertanggung jawab dengan falsah itu.
  • Menghargai pluralitas, sehingga dapat diterima warga masyarakat yang berasal dari berbagai latar belakang budaya dan agama.

Metode

Ceramah dengan variasi tanya jawab, analisis, penugasan, dan diskusi kelas.

Model

Model yang digunakan adalah model jigsaw.

Sumber Arikel : https://www.sekolahbahasainggris.co.id/

This article was written by sucx3