Tes Minat Bakat Jadi Prioritas, Tidak Bisa Pakai Nilai Unas

Tes Minat Bakat Jadi Prioritas, Tidak Bisa Pakai Nilai Unas

Tes Minat Bakat Jadi Prioritas, Tidak Bisa Pakai Nilai Unas
Tes Minat Bakat Jadi Prioritas, Tidak Bisa Pakai Nilai Unas

 

Penggunaan tes psikologi untuk menyeleksi minat siswa dalam menentukan jurusan tetap menjadi prioritas sekolah. Tes psikologi dipilih sekolah karena bisa menjelaskan secara terperinci kepada wali murid soal minat putra-putrinya.

Misalnya, yang terlihat di SMAN 1 Surabaya. Ratusan siswa kelas X telah melakukan tes psikologi Senin (10/7). Tes tersebut menjadi salah satu penentu bagi siswa untuk ditempatkan di jurusan IPA atau IPS.

Kepala SMAN 1 Johanes Mardijono menyatakan, penentuan kelas menggunakan tes psikologi tetap dipilih sekolah untuk memperkuat penempatan siswa dalam penjurusan. ’’Psikotes kami gunakan agar siswa tambah yakin,’’ ujarnya.

Sebelum menyelenggarakan tes peminatan, sekolah sebenarnya telah memprediksi minat setiap siswa melalui nilai yang dimiliki. Terutama nilai ujian nasional (unas) dan nilai rapor SMP.

Selain itu, sekolah telah memberikan surat pernyataan yang berisi minat yang dipilih siswa ketika menempuh pendidikan di SMAN 1. Namun, sifat surat pernyataan tersebut tidak mengikat. Hanya sebagai pertimbangan untuk menentukan jurusan.

Tidak hanya memperkuat penentuan jurusan, penggunaan tes psikologi bertujuan meminimalkan protes orang tua murid. Terlebih setelah penentuan jurusan diumumkan sekolah. ’’Sebenarnya, tanpa tes psikologi sekolah bisa menghemat pengeluaran biaya,’’ jelasnya. Jika tes tersebut ditiadakan, sekolah rawan komplain.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 64 Tahun 2014 tentang Peminatan pada Pendidikan Menengah dianggap sekolah kurang kuat digunakan sebagai pegangan. Sebab, melalui peraturan tersebut, peminatan ditentukan atas dasar pilihan siswa. Sekolah tidak memaksa. ’’Nah, kalau dituruti semua, kebutuhan kelas di setiap sekolah akan kacau,’’ ungkapnya.

Johanes memberikan contoh di sekolahnya. Di SMAN 1 ada tujuh rombel yang disediakan untuk kelas X. Enam kelas merupakan jurusan IPA. Satu kelas ditujukan untuk jurusan IPS. Penentuan jurusan tersebut dibuat sekolah berdasar jumlah guru yang mengajar.

Untuk menghindari polemik wali murid dan mengemat biaya pelaksanaan tes psikologi, Johanes mengusulkan, pemerintah ke depan bisa mencontoh sistem perguruan tinggi. Yakni, menentukan jurusan secara langsung saat seleksi penerimaan peserta didik baru (PPDB).

Caranya, sekolah tinggal menjelaskan pagu dan jumlah jurusan yang tersedia. Pendaftar tinggal melihat sekolah yang menjadi tujuan. Lantas, calon siswa memilih secara langsung jurusan apa yang diminati. ’’Melalui prosedur ini, sekolah dan wali murid akan lebih mendapat kepastian,’’ jelasnya.

SMAN 8 juga menggunakan tes psikologi untuk menentukan minat dan bakat siswa. Bahkan, sekolah di kawasan utara tersebut menerapkan dua mekanisme tes dalam penjurusan siswa. ’’Kami menggunakan tes minat dan bakat serta tes mata pelajaran,’’ tutur Kepala SMAN 8 Ligawati.

Gabungan tes itu digunakan sekolah untuk memperkuat siswa agar tidak salah langkah dalam mengambil keputusan. Tes psikologi digunakan untuk melihat kondisi siswa secara psikis. Adapun tes mapel bertujuan mengetahui kemampuan akademik siswa.

Margaretha, dosen psikologi Universitas Airlangga, mengatakan bahwa tes psikologi minat dan bakat tetap harus diikuti pemahaman yang mendalam. ’’Pemahaman ini untuk melihat apakah siswa betul berminat atau karena mengikuti hal yang populer di lingkungannya,’’ paparnya. Retha, sapaannya, mencontohkan, ada siswa yang berminat sekali pada jurusan IPA. Bisa jadi, latar belakangnya hanya informasi sekadarnya. Yakni, dari jurusan itu, siswa akan menjadi dokter. Apalagi, anak tidak jarang sekadar ikut-ikutan.

Kerena itu, menurut Retha, penting pula menggali minat tersebut secara langsung dari anak. Misalnya, melalui pendekatan berupa wawancara. Tahap itu, lanjut dia, bertujuan memberikan pemahaman kepada anak bahwa pilihan dalam peminatan harus disesuaikan dengan bakat. Tidak meniru anggapan yang populer di sekitarnya.

Orang tua berperan penting dan harus dilibatkan. Misalnya, dimintai keterangan seputar apa yang disukai anak. Hal tersebut, lanjut Retha, bisa menjadi data pendukung untuk memantapkan pemetaan siswa. Sekaligus proses penggalian informasi tentang minat dan bakat siswa tersebut.

Selain itu, ada beberapa acuan lain yang bisa diambil. Misalnya, dari data prestasi siswa, baik akademis maupun nonakademis. ’’Prestasi akademis bisa dari hasil ujian nasional,’’ ungkap dosen pengampu bidang pengajaran assessment inteligensi bakat dan minat tersebut. Bisa pula dengan tes lagi.

Lebih penting lagi, pemetaan harus melibatkan sekolah. ’’Masyarakat kita terbentuk dari berbagai pekerjaan dan ahli. Anak-anak harus dipahamkan dan diperluaskan pengetahuannya sejak dini,’’ jelasnya.

PPDB tidak hanya memasuki fase tes penjurusan bagi siswa baru SMA. Beberapa SMK melakukan pemeriksaan kesehatan. Salah satunya, di SMKN 1. Tahap tes kesehatan untuk siswa baru SMKN 1 diselenggarakan Kamis (10/7). Pemeriksaan itu tidak hanya memastikan siswa bebas tato dan tindik. Ada pula tes urine untuk memastikan siswa bebas narkoba.

Pemeriksaan dimulai pukul 08.00. Siswa dibagi dalam tiga gelombang. Sebanyak 864 siswa baru mengikuti pemeriksaan tersebut. Tempat pemeriksaan siswa putra dan putri terpisah.

Mulyadi, salah seorang petugas, menerangkan bahwa ada tiga indikator yang diuji. Antara lain, ganja, amfetamin (obat-obatan), dan morfin. Setelah melewati tes urine, siswa harus bersedia dicek tubuhnya. Tujuannya, melihat adanya tindik dan tato di tubuh siswa. Hari ini siswa mengikuti tes minat dan bakat.

Ketua PPDB SMKN 1 Abdul Majid mengungkapkan, tes kesehatan tersebut bertujuan mengecek ulang kondisi fisik siswa. Apalagi, aturan tentang tato, tindik, dan bebas narkoba sudah tertulis dalam persyaratan. ’’Karena seleksinya online, harus kembali kita pastikan. Yang jalur offline juga dites,’’ paparnya.

Agar pemeriksaan bebas narkoba bisa terealisasi, pihak sekolah harus

membeli alat tes untuk sejumlah siswa baru. Meski demikian, Majid mengatakan tidak akan membebankan biaya itu kepada siswa. Semua biaya diambil dari anggaran yang sudah dirancang pihak sekolah.

Hal tersebut dibenarkan salah seorang wali murid, Sarah Hartini. Dia menuturkan belum menerima pemberitahuan apa pun dari pihak sekolah mengenai pembayaran tes kesehatan. Selain itu, lanjut dia, hari ini anaknya mengikuti tes minat dan bakat. ’’Besok (hari ini, Red) disuruh datang lagi jam 7. Tes lagi,’’ ungkapnya sambil menunggu sang anak mengikuti tes urine.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Saiful Rachman mengatakan, tes minat dan bakat merupakan kewenangan sekolah masing-masing. Tujuannya, sekolah mengetahui minat dan bakat siswa yang bersangkutan. ’’Sekolah jadi punya dasar. Kalau tidak ada dasar, bisa diprotes orang tua,’’ katanya.

Wali murid juga tidak bisa memprotes ketika anaknya ternyata ada di jurusan

yang berbeda dengan keinginannya. Sebab, pihak sekolah punya data atau hasil minat-bakat siswa. Menurut dia, hal itu dilakukan untuk mengisi ketersediaan guru IPA, IPS, dan bahasa di sekolah. Sebab, rasio guru IPA dan IPS di sekolah sudah tersedia. Jadi, tes minat dan bakat juga bertujuan memeratakan peran guru.

Lantas, mengapa tidak menggunakan nilai unas? Mantan kepala Badan Diklat Jatim itu mengatakan, data nilai unas kurang akurat untuk mengetahui minat dan bakat siswa. Apalagi, unas hanya dilaksanakan di tingkat akhir jenjang sekolah. Jadi, perlu peran guru bimbingan konseling (BK).

Peran guru BK, kata dia, juga tidak bisa serta-merta. Sebab,

penjurusan IPA dan IPS dilakukan di awal tahun pelajaran baru. Data BK tidak cukup untuk mengetahui minat-bakat siswa. Berbeda jika penjurusan dilakukan di kelas setelahnya. Misalnya, kelas XI.

Mengapa tidak menggunakan data BK dari SMP? Mengenai hal itu, Saiful mengatakan bahwa data BK SMP bisa saja tidak akurat. Sebab, secara psikologi, anak mengalami perkembangan. ’’Anak berkembang. Lebih mantap ke mana terus berjalan, psikologinya berkembang,’’ ungkapnya. Yang penting, menurut dia, pelaksanaan tes minat dan bakat tidak boleh memungut dana. ’’Dana melalui dana

 

Sumber :

https://www.newscredit.org/gurependikan-com-learning-while-on-the-move/

This article was written by sucx3