Menteri Jonan Dorong Instansi Pendidikan Gunakan Solar Rooftop

Menteri Jonan Dorong Instansi Pendidikan Gunakan Solar Rooftop

Menteri Jonan Dorong Instansi Pendidikan Gunakan Solar Rooftop
Menteri Jonan Dorong Instansi Pendidikan Gunakan Solar Rooftop

Dalam International Conference of Resources and Environmental Economics

(ICREE 2019) di IPB International Convention Center (IICC), Kampus Baranangsiang Bogor (22/8), Menteri Energi, Sumberdaya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan mendorong instansi-instansi pendidikan serta industri hospitality untuk menggunakan solar rooftop pada tiap gedungnnya. Jonan juga berharap pemerintah daerah dapat mandiri energi.

“Pemerintah memiliki target dalam bauran energi sampai dengan tahun 2050. Dalam bahan bakar minyak, pemerintah telah memiliki kebijakan B20 yang bertujuan untuk meningkatkan bauran energi terbarukan sebanyak 20 persen. Dari segi pembangkit listrik, pemerintah juga mendorong pemanfaatan energi terbarukan terutama pemakaian solar rooftop. Pemerintah juga mendorong instansi-instansi pendidikan, industri hospitality untuk menggunakan solar rooftop pada tiap gedungnya. Kompetensi pengembangan energi terbarukan di masa yang akan datang akan mewujudkan energi terbarukan yang lebih terjangkau,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, dalam rangka Green Campus 2020, Rektor IPB University

, Dr Arif Satria siap menjadikan rektorat mandiri energi. Selain itu, menurutnya Surfactant dan Biocenergy Research Center (SBRC), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), IPB University telah ditunjuk oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti) sebagai pusat unggulan di bidang sains dan teknologi terkait biomassa.

“IPB University memiliki peran penting dalam pengembangan bioenergi.

Untuk itu kita harus mencari sumber-sumber lain dari produk bioenergi non pangan. Harapannya inovasi bioenergi yang dihasilkan berasal dari produk non pangan. Banyak potensi biomassa di Indonesia yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku biofuel generasi dua yakni kelapa sawit (tandan buah kosong, mesocarp, serat, cangkang inti sawit, batang, pelepah tangkai daun), kelapa (cangkang, sabut), tebu (pucuk daun dan ampas tebu), karet (kulit dan pulp), kopi (sekam), kakao (cangkang dan kulit biji), sagu (daun, kulit ), beras (jerami dan sekam), jagung (tangkai, rambut, dan tongkol), dan singkong (kulit). IPB University akan terus mendorong untuk membuat sebuah produk energi yang murah,” ujarnya.

Menurutnya, berdasarkan jenis bahan baku biomassa, tandan kosong kelapa sawit adalah sumber yang paling potensial biomassa untuk biofuel generasi kedua. Karena itu diperlukan untuk membuat penelitian terobosan yang dapat meningkatkan nilai tambah, meminimalkan limbah yang dihasilkan dan membuat industri kelapa sawit lebih berkelanjutan.

“Pemanfaatan biomassa tidak hanya terbatas untuk biofuel, tetapi juga untuk berbagai produk seperti biomaterial, biokimia, biosurfaktan, dan lainnya produk. Pengembangan beragam pemanfaatan biomassa membutuhkan dukungan teknologi untuk mempercepat dan mengkomersialkan produk biomassa oleh industri, untuk memastikan keberlanjutan produksi, dan produk dapat memenuhi persyaratan,” tambahnya

 

Baca Juga :

This article was written by sucx3