Penyebab Merasa Tidak Produktif Bekerja

Penyebab Merasa Tidak Produktif Bekerja

Meski kesannya sepele, ternyata perilaku dan kelaziman rekan kerja yang mengganggu tidak melulu merusak kenyamanan bekerja, tapi pun dapat menghambat lancarnya pekerjaan. Tapi dapat jadi anda pun bersalah dan melakukannya. Sebagai bahan introspeksi, simak sekian banyak sikap mengganggu di kantor inilah ini yang dapat membuat orang beda malas guna datang kerja masing-masing pagi.

MEMBAWA ‘AURA’ NEGATIF
Banyak orang menyimpulkan bekerja untuk mengalirkan ide, passion, atau menyerahkan kontribusi cocok dengan idealisme dan kemampuannya. Tapi, prakteknya ada pun orang yang bekerja sekadar demi menerima gaji masing-masing bulan, tetapi tidak merasakan pekerjaan yang dilakukannya sama sekali.

Ketika seseorang berada di lokasi yang sebenarnya tidak ia inginkan, otomatis ia bakal memancarkan ‘aura’ yang tidak mengenakkan untuk sekitarnya. Belum pasti ia bakal selalu menampik pekerjaan, namun seringkali ia akan mengerjakan pekerjaan dengan setengah-setengah, atau justeru terlihat ogah-ogahan di depan rekan-rekannya.

Percaya atau tidak, aura dan attitude laksana ini begitu cepat menular. Orang beda yang awalnya masih mempunyai motivasi tinggi guna bekerja, dapat ikut malas-malasan, sampai-sampai suasana kerja jadi tidak mengasyikkan dan produktif.

MENGAKUI PEKERJAAN ORANG LAIN
Yang satu ini, telah pasti dapat membuat geram siapapun yang menjadi korban. Sudah capek-capek kita menggarap sesuatu, barangkali tanpa pertolongan orang lain, tiba-tiba saja seseorang datang dan mengklaim bahwa kegiatan itu ialah hasil kerja kerasnya juga. Menyebalkan, bukan? Biasanya, si ‘pencuri’ ini akan memungut satu atau dua urusan yang ia berikan terhadap kegiatan atau proyek tertentu, kemudian membesarbesarkannya sampai-sampai ia seakan-akan mempunyai peran yang sangat penting di sana.

MERASA PEKERJAANNYA PALING BERAT
Setelah seharian ‘tenggelam’ di kubikel, berkutat di depan komputer dengan ragam worksheet, rasanya sulit menyaksikan bahwa orang beda pun menghadapi load kegiatan yang sama besar atau justeru lebih tidak sedikit dari kita.

Sesekali berkeluh kesah mengenai banyaknya kegiatan dengan teman kerja tentu wajar saja. Tapi, curhat, seraya mengurai satu per satu kegiatan yang mesti anda lakukan, disertai dengan komplain dan keluhan untuk teman atau family di luar kantor saja, dapat terdengar membosankan. Apalagi bila kita melakukannya untuk orang-orang di kantor yang ‘bernasib’ sama. Helo? Kan bukan cuma anda yang pekerjaannya banyak.

PAHLAWAN KESIANGAN
Biasanya, perlu proses dan masa-masa yang yang lumayan signifikan guna merealisasikan
sebuah gagasan atau usulan menjadi suatu proyek nyata. Di sesi brainstorming biasanya ditemukan dua tipe orang. Pertama, mereka yang paling kreatif dan vokal dalam mendengungkan idenya. Buat mereka, tidak masalah idenya diterima atau tidak, yang urgen bersuara dulu. Kedua, yang mengesalkan ialah orang yang tidak pernah bersuara di mula proses penggodokan ide, tetapi datang dengan ragam masukan yang kelewat membina di akhir proses. Sebetulnya, dapat jadi masukan itu ada benarnya. Namun, bila sebelumnya ia tidak pernah angkat bicara, kemudian tiba-tiba saja mengkritik ini-itu, rasanya gemas hendak bertanya, “Dari kemarin ke mana saja?”

GEMAR MENGELUH
Secara psikologis, mengeluh tentang kegiatan sesekali, entah pada sesame teman kerja atau pada keluarga, tidak terdapat salahnya karena dapat meringankan beban
di hati. Namun, terus menerus mengeluh bisa dominan buruk terhadap ‘indeks’ kebahagiaan anda sehari-hari.

Baca Juga :

This article was written by sucx3